
Baku dan Jaga (Bajaga) tidak sekadar langkah, tetapi sebuah perisai gagah dalam perlawanan terhadap Human Trafficking. Dengan menggalang kerjasama, menyebarkan pengetahuan, dan melaksanakan tindakan nyata, Bajaga bukan hanya potensi, melainkan berusaha menjadi pahlawan utama yang berdiri di garis terdepan, melindungi masyarakat dari ancaman Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).
Bajaga lahir dari kepedulian mendalam Fransiscus Go, seorang tokoh berpengaruh dari Nusa Tenggara Timur. Ia tak bisa berpaling dari kenyataan pahit yang menimpa banyak warga NTT—mereka berangkat ke luar negeri dengan harapan hidup lebih baik, namun justru terjerat dalam perdagangan manusia. Eksploitasi, penderitaan, hilangnya hak asasi, bahkan kematian menjadi bayangan kelam di balik janji manis pekerjaan di negeri orang.
Didorong oleh keinginan kuat untuk melindungi sesama, Fransiscus Go mendirikan Bajaga sebagai tameng bagi mereka yang rentan terhadap praktik keji ini. Lebih dari sekadar gerakan, Bajaga hadir sebagai harapan—agar setiap individu memiliki kesempatan untuk hidup dengan martabat, aman, dan terbebas dari ancaman perdagangan manusia.
Jakarta — Di balik semangkuk bakmi yang mengepul hangat, ada cerita kolaborasi yang lebih besar dari sekadar urusan perut. Kehadiran Bakmi Jogja Mbah Walid di kawasan Kendal–Menteng, Jakarta Pusat, bukan
Maumolo - Kelompok UMKM Maumolo kembali menunjukkan semangat kemandirian melalui kegiatan produksi keripik dan pelatihan pembuatan olahan getuk goreng yang dilaksanakan hari ini. Kegiatan tersebut mendapat dukungan penuh dari Yayasan
Noebeda - Upaya penyediaan akses air bersih di Puskesmas Noebeba akhirnya membuahkan hasil yang menggembirakan. Kolaborasi antara komunitas Gen Z, Gejala dan Yayasan YFMG berhasil menemukan sumber air melalui kegiatan
Kotenwalang - Fransiscus melakukan kunjungan lapangan ke Kampung Kotenwalang, Desa Latonliwo, Kecamatan Tanjung Bunga, Kabupaten Flores Timur, pada Minggu (17/05/2026). Kunjungan ini merupakan bagian dari upayanya untuk menjangkau masyarakat di
Maumolo - Di balik hamparan perbukitan Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur, tersimpan sebuah kisah tentang semangat yang tak pernah padam. Kampung Maumolo, atau yang dikenal warga setempat
Garda Bajaga siap membantu dan berkolaborasi dalam melawan perdagangan manusia. Jangan ragu menghubungi kami!