Kantor

Jl. Kendal No.1 10, RT.10/RW.6, Dukuh Atas, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10310

Kantin Kendal dan Bakmi Jogja Mbah Walid: Saat Kolaborasi UMKM Jadi Jembatan Rasa Nusantara di Ibu Kota

Jakarta — Di balik semangkuk bakmi yang mengepul hangat, ada cerita kolaborasi yang lebih besar dari sekadar urusan perut. Kehadiran Bakmi Jogja Mbah Walid di kawasan Kendal–Menteng, Jakarta Pusat, bukan sekadar pembukaan gerai kuliner baru — melainkan wujud nyata ekosistem usaha yang menghubungkan pelaku UMKM kuliner daerah dengan pasar ibu kota yang terus tumbuh.

Bakmi Jogja Mbah Walid resmi hadir melalui kolaborasi dengan Kantin Kendal, sebuah kantin Nusantara modern yang mengusung semangat *”Dari Jalan Kendal untuk Rasa Nusantara.”* Kolaborasi ini menjadi bukti bahwa kuliner tradisional daerah bisa tampil kompetitif di Jakarta tanpa harus mengorbankan identitas dan keasliannya.

Rayhan Christian Siego, pemilik Kantin Kendal, menyebut kehadiran Bakmi Jogja Mbah Walid sebagai pelengkap konsep kantin Nusantara yang ia bangun sejak awal. Baginya, setiap tenant yang masuk ke Kantin Kendal harus membawa nilai lebih — bukan sekadar menu, tetapi juga cerita dan budaya di balik sajiannya.

Kantin Kendal sendiri bukan sekadar tempat makan biasa. Ia dirancang sebagai ekosistem koperasi yang mendukung kesejahteraan karyawan sekaligus membuka ruang seluas-luasnya bagi pelaku UMKM kuliner tradisional untuk tumbuh dan dikenal di tengah ketatnya persaingan kuliner ibu kota.

Konsep *from farm-to-table* menjadi salah satu pilar utama Kantin Kendal. Setiap menu yang tersaji diupayakan menggunakan bahan-bahan segar berkualitas yang terhubung langsung dengan para petani dan produsen lokal — sebuah rantai nilai yang menguntungkan banyak pihak sekaligus menjaga kualitas cita rasa.

Di sinilah Bakmi Jogja Mbah Walid menemukan rumah yang tepat. Febriansyah, selaku Master Cook Bakmi Jogja Mbah Walid, menjelaskan bahwa kolaborasi dengan Kantin Kendal membuka peluang nyata bagi kuliner tradisional Jogja untuk menjangkau pasar yang lebih luas tanpa harus melepas akar budayanya.

Komitmen terhadap autentisitas menjadi nilai utama yang dijaga ketat oleh Bakmi Jogja Mbah Walid. Seluruh resep yang digunakan tetap mengacu pada resep asli dari Yogyakarta — tidak ada yang dikompromikan demi menyesuaikan selera pasar Jakarta secara berlebihan.

Lebih dari sekadar resep, metode memasak pun dipertahankan secara tradisional. Bakmi Jogja Mbah Walid masih setia menggunakan bara arang sebagai media memasak, menghasilkan aroma smoky khas yang menjadi ciri autentik kuliner Jogja dan sulit ditiru oleh kompetitor yang menggunakan kompor modern.

Baca Juga  Fransiscus Go: Bisnis Makanan Sehat Bisa Jadi Pilihan Masa Depan Generasi Z

“Masih tetap menggunakan media arang untuk memasak, jadi ada aroma khas smoky dari bara arang yang menjadi daya tarik utama,” ujar Febriansyah. Bagi banyak pengunjung, aroma itulah yang pertama kali membangkitkan kenangan dan rasa rindu terhadap suasana kuliner Jogja yang sesungguhnya.

Menu yang ditawarkan pun beragam dan mencerminkan kekayaan kuliner Jawa. Mulai dari Bakmi Godhog, Bakmi Nyemek, Bakmi Goreng, Nasi Goreng Kecombrang, Magelangan, Capcay Jawa, Krengsengan Ayam, hingga Babat Gongso — semuanya hadir dengan harga yang tetap merakyat dan terjangkau bagi kalangan pekerja kantoran sekalipun.

Pemilihan lokasi di kawasan Kendal–Menteng bukan tanpa perhitungan. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu titik aktivitas pekerja kantoran tertinggi di Jakarta, terutama karena letaknya yang strategis di dekat Stasiun Sudirman yang dilalui ribuan komuter setiap harinya.

Respons pasar pun terbilang menggembirakan sejak hari pertama beroperasi. Mayoritas pengunjung datang dari kalangan pekerja kantoran hingga keluarga yang ingin menikmati sajian tradisional di tengah padatnya rutinitas ibu kota. Banyak yang menyebut rasanya autentik dan membawa nuansa nostalgia yang kuat.

“Banyak yang bilang rasanya enak, gurih, nikmat, dan rata-rata merasa nostalgia dengan suasana Jogja,” ungkap Febriansyah. Komentar-komentar positif itulah yang kian meyakinkan bahwa kuliner tradisional masih memiliki tempat yang kuat di hati masyarakat urban Jakarta.

Model kolaborasi antara UMKM kuliner daerah dan platform kantin komunitas seperti Kantin Kendal ini pun dinilai memiliki potensi replikasi yang besar. Di tengah tren masyarakat yang mulai meninggalkan makanan cepat saji dan kembali mencari cita rasa tradisional, formula ini bisa menjadi jalan bagi banyak pelaku usaha kuliner daerah lainnya untuk hadir di kota besar tanpa kehilangan jati diri.

Ke depan, Bakmi Jogja Mbah Walid tidak menutup kemungkinan untuk membuka cabang baru secara bertahap. Namun yang lebih penting dari ekspansi fisik adalah pesan yang dibawa — bahwa UMKM kuliner tradisional bisa bertahan, berkembang, dan bersaing di Jakarta, asalkan ada ekosistem yang tepat untuk menopangnya. Kantin Kendal dan Bakmi Jogja Mbah Walid membuktikan itu.

Baca Juga  Forum “Beyond Tomorrow” KBC: Solusi Kolaboratif untuk Pemulihan Ekonomi Indonesia

Berikut beberapa pilihan menu unggulan yang tersedia:

Menu Bakmi Jawa

Bakmi Godhog/Nyemek/Goreng Biasa – Rp30.000
Bakmi Godhog/Nyemek/Goreng Spesial (dengan telur ceplok) – Rp35.000
Bihun Godhog/Nyemek/Goreng Biasa – Rp27.000
Bihun Godhog/Nyemek/Goreng Spesial (dengan telur ceplok) – Rp32.000
Menu Nasi Goreng Jawa

Nasi Goreng Biasa – Rp30.000
Nasi Goreng Spesial – Rp35.000
Nasi Goreng Kecombrang – Rp35.000
Nasi Goreng Magelangan – Rp35.000
Nasi Goreng Ndeso – Rp35.000
Nasi Goreng Babat Sapi – Rp37.000
Nasi Goreng Petai – Rp35.000
Nasi Goreng Teri/Ikan Asin – Rp35.000
Nasi Goreng Ati Ampela – Rp35.000
Nasi Godhog – Rp30.000
Menu Lainnya

Capcay Jawa Godhog/Goreng Biasa – Rp30.000
Capcay Jawa Godhog/Goreng Spesial – Rp35.000
Krengsengan Daging Ayam – Rp38.000
Krengsengan Balungan – Rp38.000
Babat Gongso – Rp38.000
Nasi Putih – Rp6.000
Telur Ceplok/Dadar – Rp7.000
Ati Ampela – Rp7.000
Petai – Rp10.000
Menu Minuman

Teh Tawar Es/Panas – Rp7.000
Teh Manis Es/Panas – Rp12.000
Jeruk Es/Panas – Rp12.000
Jeruk Nipis Es/Panas – Rp12.000
Wedang Jahe Sereh – Rp20.000
Wedang Uwuh – Rp20.000
Wedang Secang – Rp15.000
Wedang Seruni – Rp15.000
Kopi Tubruk – Rp12.000
Kopi Joss – Rp12.000
Kopi Jahe – Rp15.000

Dengan harga yang tetap merakyat, Bakmi Jogja Mbah Walid ingin menghadirkan kuliner khas Jogja yang nikmat namun tetap terjangkau bagi masyarakat Jakarta.

“Rasa nikmat dengan harga yang merakyat menjadi salah satu konsep yang kami pertahankan,” kata Febriansyah.

Pemilihan lokasi di kawasan Kendal–Menteng disebut karena memiliki prospek yang baik dengan aktivitas pekerja kantoran yang tinggi, terutama masyarakat yang lalu lalang dari dan menuju Stasiun Sudirman.

“Lokasinya sangat prospek karena ramai pekerja kantoran dan masyarakat yang beraktivitas di sekitar Sudirman,” jelasnya.

Sejak hadir di kawasan Kendal–Menteng, mayoritas pengunjung berasal dari kalangan pekerja kantoran hingga keluarga. Respons pelanggan pun dinilai sangat positif.

“Banyak yang bilang rasanya enak, gurih, nikmat, dan rata-rata merasa nostalgia dengan suasana Jogja,” ungkapnya.