Kantor

Jl. Kendal No.1 10, RT.10/RW.6, Dukuh Atas, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10310

Dari Sumur Bor hingga Harapan Petani Muda, YFMG Bangkitkan Potensi Pertanian Maumolo

Kupang — Ketersediaan air bersih bukan sekadar persoalan memenuhi kebutuhan rumah tangga, tetapi juga menjadi kunci untuk menggerakkan roda perekonomian dan membangun kemandirian masyarakat. Hal inilah yang menjadi perhatian Yayasan Felix Maria Go (YFMG) dalam menjalankan program pemberdayaan masyarakat di Maumolo, Nusa Tenggara Timur.

Melalui pendekatan pemberdayaan berbasis kebutuhan masyarakat, YFMG berupaya menghidupkan kembali potensi pertanian Maumolo yang dahulu dikenal sebagai salah satu daerah penghasil sayuran. Langkah awal yang dilakukan adalah menghadirkan akses air bersih dan air untuk pertanian yang selama bertahun-tahun menjadi persoalan utama warga.

Koordinator Pemberdayaan Masyarakat Maumolo, Andre Setiawan, mengungkapkan hal tersebut dalam acara Pos Kupang Podcast bertema “Dampak Positif Akses Air Bersih untuk Kesejahteraan Masyarakat Maumolo”, Senin (2/11/2026).

Andre menjelaskan, sejak awal kehadiran YFMG di Maumolo memiliki tujuan besar, yakni membentuk masyarakat yang mandiri dan sejahtera. Namun, untuk mewujudkan tujuan tersebut, pihaknya menyadari bahwa kebutuhan paling mendasar yang harus dipenuhi adalah ketersediaan air.

“Concern kami di Maumolo adalah bagaimana membentuk masyarakat yang mandiri dan sejahtera. Langkah pertama yang kami lakukan adalah menyediakan akses air bersih, karena air merupakan jantung dari berbagai aktivitas yang bisa dilakukan masyarakat,” ujar Andre.

Menurutnya, kondisi Maumolo yang ditemukan di lapangan ternyata tidak sepenuhnya sesuai dengan informasi yang selama ini beredar. Daerah tersebut pernah dikenal sebagai salah satu pemasok sayuran utama. Namun, potensi pertanian itu perlahan meredup akibat keterbatasan akses air.

Dalam perbincangan langsung dengan warga, Andre mendapatkan gambaran bahwa kesulitan air menjadi salah satu penyebab masyarakat tidak lagi mampu mengoptimalkan lahan pertanian mereka. Akibatnya, aktivitas bercocok tanam semakin terbatas dan potensi ekonomi desa belum berkembang secara maksimal.

Baca Juga  Bukan Sekadar Bangun Rumah, YFMG Dorong Pemberdayaan Masyarakat di Maumolo

Berangkat dari persoalan tersebut, YFMG bersama dukungan Fransiscus Go mulai membangun infrastruktur penyediaan air. Hingga saat ini, program tersebut telah menghadirkan lima titik sumur bor dan lima titik reservoir utama sebagai tempat penampungan air berkapasitas besar. Jaringan perpipaan juga dibangun untuk mendistribusikan air agar dapat menjangkau lebih banyak rumah dan lahan masyarakat.

Dampak program tersebut mulai dirasakan langsung oleh warga. Andre menyebutkan, sebelum adanya fasilitas air, masyarakat harus mengeluarkan biaya sekitar Rp80.000 hingga Rp90.000 setiap kali membeli air menggunakan tangki. Pengeluaran tersebut tentu menjadi beban tersendiri, terutama bagi keluarga yang menggantungkan penghasilan dari sektor pertanian.

“Alhamdulillah, sekarang kebutuhan air masyarakat sudah jauh lebih terpenuhi. Kalau dulu mereka harus membeli air tangki dengan harga Rp80.000 sampai Rp90.000, sekarang pengeluaran itu sudah sangat berkurang. Memang belum sepenuhnya hilang, tetapi perubahannya sudah sangat terasa,” ungkapnya.

Lebih dari sekadar mengurangi beban pengeluaran rumah tangga, ketersediaan air juga mulai menghadirkan harapan baru bagi masa depan pertanian Maumolo. Salah satu perubahan yang cukup menggembirakan adalah munculnya ketertarikan generasi muda untuk kembali ke kampung halaman dan mengelola lahan pertanian yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.

Andre menuturkan, pada awal menjalankan program pemberdayaan, sebagian besar masyarakat yang aktif bertani justru berasal dari kelompok usia 60 hingga 70 tahun. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri karena tenaga dan kemampuan fisik mereka sudah tidak sekuat dahulu, sementara regenerasi petani belum berjalan secara maksimal.

Namun, perubahan kondisi lingkungan dan kemudahan akses air mulai menumbuhkan optimisme. Melalui berbagai aktivitas pemberdayaan dan publikasi perkembangan Maumolo di media sosial, anak-anak muda yang sebelumnya memilih merantau mulai melihat peluang untuk kembali dan mengembangkan potensi daerahnya.

Baca Juga  Program Panen Sayur Nara Kupu Village Ajak Anak Belajar Sambil Bermain dan Peduli Lingkungan

“Beberapa anak muda sudah mulai tertarik dan terpanggil hatinya untuk pulang. Mereka mulai yakin bahwa tanah-tanah di sana bisa kembali dihidupkan. Kami juga terus membagikan perkembangan Maumolo melalui media sosial agar semakin banyak anak muda mengetahui bahwa daerahnya sekarang sudah mulai berkembang,” jelas Andre.

Fenomena tersebut menjadi salah satu indikator bahwa pemberdayaan masyarakat tidak hanya berbicara mengenai pembangunan infrastruktur, tetapi juga membangun kembali kepercayaan diri, harapan, dan semangat masyarakat untuk mengelola potensi yang dimiliki daerahnya sendiri.

Bagi YFMG, keberhasilan menghadirkan akses air bersih merupakan pintu masuk menuju agenda pemberdayaan yang lebih luas. Air diharapkan menjadi modal dasar untuk mengembangkan pertanian produktif, membuka peluang ekonomi keluarga, memperkuat ketahanan pangan, sekaligus mendorong generasi muda mengambil peran dalam pembangunan kampung halaman.

Harapan besar pun diarahkan pada kebangkitan kembali Maumolo sebagai kawasan pertanian yang produktif. Dengan dukungan infrastruktur air, keterlibatan masyarakat, serta regenerasi petani, YFMG ingin memastikan bahwa potensi alam yang dimiliki Maumolo tidak lagi terhambat oleh persoalan mendasar yang selama ini membelenggu masyarakat.

Pada akhirnya, program pemberdayaan YFMG di Maumolo membawa pesan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari kebutuhan yang paling sederhana. Ketika air mulai mengalir, lahan kembali memiliki harapan untuk ditanami, anak-anak muda mulai terpanggil untuk pulang, dan masyarakat perlahan menemukan kembali keyakinan bahwa kesejahteraan bisa dibangun dari tanah kelahirannya sendiri.