Jakarta – Insiden tragis yang menewaskan seorang pengemudi ojek online dalam aksi demonstrasi menuntut keadilan perburuhan, memantik reaksi keras dari berbagai elemen masyarakat. Salah satunya datang dari Komunitas Bajaga (Baku Jaga), sebuah gerakan yang mengedepankan solidaritas, empati, dan ruang dialog antara pemerintah dan rakyat.
Ketua Harian Bajaga, Ferdinandus Wali Ate, menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap peristiwa ini. Ia menegaskan bahwa insiden tersebut bukan hanya tentang satu nyawa yang melayang, tetapi tentang hilangnya ruang aman bagi rakyat kecil dalam menyuarakan haknya.
“Kami tidak ingin aksi damai yang seharusnya menjadi wadah menyampaikan aspirasi, berubah menjadi tragedi. Pemerintah seharusnya menjadi pendengar yang baik, bukan justru menindas masyarakat kecil yang berjuang untuk haknya,” tegas Ferdinandus.
Lebih lanjut, Ferdinandus menegaskan bahwa suara rakyat bukanlah ancaman, melainkan pengingat penting bagi para pemegang kebijakan. Tugas utama negara, menurutnya, adalah menempatkan kesejahteraan rakyat sebagai prioritas, bukan sekadar mengejar kepentingan politik atau elite tertentu.
“Kami berharap suara rakyat dapat menjadi pengingat bagi para pemegang kebijakan, bahwa kesejahteraan rakyat harus menjadi prioritas utama. Jangan pernah lupa, mereka yang duduk di kursi kekuasaan ada karena mandat rakyat. Rakyat Indonesia! Hidup Buruh!” seru Ferdinandus.
Komunitas Bajaga juga menekankan pentingnya usut tuntas pelaku secara transparan agar keadilan benar-benar ditegakkan. Menurut Ferdinandus, kekerasan bukan jawaban, apalagi ketika yang diperjuangkan adalah hak mendasar seperti upah layak, keamanan kerja, dan keadilan sosial.
“Indonesia seharusnya belajar mendengarkan, bukan membungkam. Kami menyerukan agar pemerintah membuka mata, membuka telinga, dan membuka hati. Rakyat tidak meminta lebih, mereka hanya meminta hidup yang layak, serta kepastian hukum yang adil bagi semua,” pungkas Ferdinandus.









