Kantor

Jl. Kendal No.1 10, RT.10/RW.6, Dukuh Atas, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10310

Fransiscus Go dan YFMG Sulap Kampung Kekeringan Jadi Desa Mandiri Berdaya

Maumolo – Di balik hamparan tanah kering yang selama puluhan tahun menjadi wajah sehari-hari Kampung Kuan Maumolo di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), kini mulai tampak tanda-tanda kehidupan baru. Yayasan Felix Maria Go (YFMG), di bawah kepemimpinan Fransiscus Go, hadir membawa perubahan nyata bagi masyarakat kampung yang telah lama berjuang melawan kerasnya kekeringan. Langkah demi langkah, yayasan sosial kemasyarakatan ini membuktikan bahwa pembangunan sejati dimulai dari bawah.

Langkah pertama yang diambil YFMG adalah membenahi persoalan paling mendasar yang selama ini membelenggu warga Maumolo, yakni krisis air bersih. Yayasan tersebut membangun sumur bor di beberapa titik strategis di dalam kampung.

Air yang berhasil dipompa dari perut bumi itu kemudian ditampung dalam reservoar berkapasitas besar sebelum akhirnya dialirkan langsung ke rumah-rumah warga dan areal pertanian yang selama ini kering kerontang.

Kehadiran air bersih yang mengalir lancar ke pemukiman warga bukan sekadar soal kebutuhan hidup sehari-hari. Bagi masyarakat Maumolo, ini adalah babak baru yang selama ini hanya ada dalam impian. Lahan-lahan pertanian yang sebelumnya tidak produktif kini mulai bisa digarap kembali, membuka peluang pangan dan penghasilan yang lebih baik bagi setiap keluarga di kampung tersebut.

Baca Juga  Ibu dan Cinta Tanpa Syarat: Refleksi Hari Ibu 2025

Fransiscus Go, yang akrab disapa Frans Go, menjelaskan bahwa program pemberdayaan Kampung Maumolo merupakan wujud nyata dari filosofi yang selama ini dipegang teguh oleh YFMG, yaitu membangun dari akar. Menurutnya, kekuatan sejati sebuah bangsa tidak lahir dari kota-kota besar, melainkan dari desa-desa yang kuat, mandiri, dan berdaya saing.

“Kami di Yayasan YFMG percaya bahwa kekuatan bangsa dimulai dari desa. Dengan melibatkan masyarakat setempat, mulai dari pengembangan ekonomi kreatif, peningkatan keterampilan, hingga pemanfaatan potensi alam, kita tidak hanya menciptakan lapangan kerja, tetapi juga menumbuhkan kemandirian,” tegas Frans Go dalam keterangannya.

Program pemberdayaan yang dijalankan YFMG di Maumolo tidak berhenti pada infrastruktur air semata. Yayasan ini juga mendorong pengembangan ekonomi kreatif berbasis potensi lokal, pelatihan keterampilan bagi warga, serta pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan. Pendekatan yang menyeluruh ini dirancang agar dampaknya benar-benar dirasakan secara jangka panjang oleh seluruh lapisan masyarakat.

Frans Go menambahkan bahwa Maumolo sesungguhnya menyimpan kekayaan budaya dan sumber daya alam yang luar biasa, namun selama ini belum terkelola dengan baik. Inilah yang menjadi alasan kuat YFMG untuk hadir mendampingi masyarakat setempat. Menurutnya, tugas yayasan bukan mengambil alih, melainkan mendampingi agar potensi yang ada bisa dikelola secara optimal dan bermartabat.

Baca Juga  Hadapi Musim Panas, YFMG Tuntaskan Perbaikan Fasilitas Air Bersih

“Tugas kita adalah mendampingi agar potensi ini bisa dikelola dengan baik, sehingga desa tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga pusat pertumbuhan ekonomi dan sosial,” ujar Frans Go. Pernyataan ini mencerminkan visi besar YFMG yang menempatkan desa bukan sebagai objek bantuan, melainkan sebagai subjek pembangunan yang aktif dan berdaulat.

Harapan besar pun diletakkan di pundak program Maumolo ini. Frans Go berharap apa yang dibangun di kampung kecil di TTU itu dapat menjadi model percontohan bagi desa-desa lain di seluruh Indonesia. Bahwa ketika masyarakat desa diberi kesempatan dan pendampingan yang tepat, mereka mampu berdiri tegak, sejahtera, dan bangga dengan identitas serta kearifan lokalnya sendiri.

Kisah Kampung Maumolo adalah bukti bahwa perubahan tidak selalu datang dari pusat kekuasaan. Dengan komitmen, kepedulian, dan pendekatan yang tepat sasaran, sebuah yayasan swasta pun mampu menggerakkan roda kehidupan di pelosok negeri.

YFMG dan Fransiscus Go telah menunjukkan bahwa membangun Indonesia sesungguhnya bisa dimulai dari satu kampung, satu sumur bor, dan satu tekad yang tidak pernah padam.