Kantor

Jl. Kendal No.1 10, RT.10/RW.6, Dukuh Atas, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10310

Sulap Lahan Tidur di Maumolo, YFMG Dorong Diversifikasi Pertanian Cabai

TIMOR TENGAH UTARA (TTU) – Menanam dan merawat tanaman cabai bukan perkara mudah bagi sebagian petani. Tanaman yang terlihat sederhana dalam perawatannya ternyata memiliki sejumlah tantangan, mulai dari serangan hama hingga risiko gagal panen yang dapat berujung pada kerugian.

Kondisi tersebut juga menjadi kekhawatiran para petani di Kuan Maumolo, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Selama ini, sebagian petani lebih memilih menanam sayuran berumur pendek seperti kangkung, sawi, dan pakcoy karena dinilai memiliki risiko yang lebih kecil dibandingkan budidaya cabai.

Di tengah kekhawatiran tersebut, muncul upaya baru yang dilakukan Andre Setiawan, Koordinator Program Pemberdayaan Masyarakat yang ditugaskan Yayasan Felix Maria Go (YFMG) di Maumolo. Ia mencoba membuktikan bahwa lahan yang selama ini tidak produktif dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan komoditas pertanian bernilai ekonomi.

Andre mengembangkan kebun cabai di lahan seluas kurang lebih 1.200 meter persegi. Di lahan tersebut terdapat sekitar 700 lubang tanam cabai yang dirawat secara intensif. Selain cabai, lahan tersebut juga dimanfaatkan untuk menanam sejumlah sayuran seperti kangkung, pakcoy, dan sawi.

Baca Juga  Pendampingan Yayasan Felix Maria Go Dorong Perubahan di Kampung Maumolo

Budidaya cabai tersebut tidak hanya ditujukan untuk menghasilkan produk pertanian. Andre menjadikan kebun itu sebagai media pembelajaran bagi masyarakat sekitar agar mereka dapat melihat secara langsung proses budidaya cabai sekaligus mempelajari teknik perawatan tanaman.

Pilihan menanam cabai juga dilatarbelakangi kondisi mayoritas petani di Maumolo yang selama ini lebih banyak membudidayakan sayuran berumur pendek. Padahal, cabai memiliki nilai ekonomi yang cukup menjanjikan ketika harga di pasaran mengalami kenaikan.

Andre kemudian mencoba menggali alasan mengapa para petani belum berani menanam cabai dalam jumlah lebih banyak. Dari komunikasi dengan masyarakat, ia menemukan bahwa kekhawatiran terhadap serangan hama dan risiko kerugian menjadi alasan utama para petani.

“Setelah saya tanya kenapa tidak ada yang berani mencoba menanam cabai untuk jumlah yang banyak, sedangkan harga cabai di pasar sangat tinggi, bisa mencapai Rp70 ribu-Rp80 ribu per kilogram, mereka beralasan takut rugi. ‘Tanam cabai susah, Mas, hamanya banyak, jadi kami tanam sayur saja,’ ujar Primus, salah satu petani Maumolo.

Baca Juga  Komitmen Berkelanjutan, YFMG Bangun Bak Penampung Air Kelima di Maumolo

Mendengar keluhan tersebut, Andre berupaya melakukan pendekatan dengan memberikan pemahaman mengenai teknik budidaya cabai yang tepat. Namun, ia menyadari bahwa masyarakat membutuhkan contoh nyata sebelum benar-benar yakin untuk mencoba sesuatu yang baru.

“Seperti kebanyakan petani pada umumnya, mereka hanya mau percaya ketika melihat hasil. Karena itu saya putuskan untuk memanfaatkan lahan yang ada untuk budidaya cabai,” kata Andre melalui pesan WhatsApp kepada media ini, Rabu (26/8/2026).

Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil. Tanaman cabai yang dikembangkan Andre saat ini tumbuh subur dan mulai menarik perhatian masyarakat sekitar. Sejumlah petani mulai datang dan bertanya mengenai cara budidaya cabai yang benar. Bagi Andre, ketertarikan tersebut menjadi langkah awal untuk mendorong diversifikasi pertanian dan membuka peluang baru bagi masyarakat Maumolo agar tidak hanya bergantung pada tanaman sayuran berumur pendek.