Maumolo – Visi besar mengenai pembangunan nasional yang dimulai dari akar rumput kembali ditegaskan dalam sebuah agenda pemberdayaan masyarakat di wilayah Maumolo. Upaya ini dilakukan untuk mendorong desa-desa agar tidak lagi menjadi penonton dalam pembangunan, melainkan menjadi aktor utama dalam mengelola potensi daerahnya sendiri.
“Kami percaya, kekuatan bangsa dimulai dari desa. Dengan melibatkan masyarakat, mengembangkan keterampilan, hingga memanfaatkan potensi alam, kita bisa menumbuhkan kemandirian,” kata Fransiscus Go, selaku Ketua Yayasan Felix Maria Go (YFMG)
Pernyataan tersebut mencerminkan paradigma baru bahwa kedaulatan ekonomi nasional sangat bergantung pada ketahanan dan kreativitas di tingkat desa. Menurut Frans, kemandirian tidak akan datang dengan sendirinya tanpa adanya sinergi antara kebijakan pemerintah dan partisipasi aktif dari warga setempat.
Lebih lanjut, Frans Go menyoroti bahwa Maumolo bukan sekadar wilayah administratif biasa. Desa ini dinilai memiliki modal sosial dan alam yang sangat kuat untuk dikembangkan secara berkelanjutan. Integrasi antara sumber daya manusia yang terampil dan kekayaan alam diharapkan menjadi kunci utama transformasi wilayah tersebut.
Ia menambahkan, Maumolo menyimpan kekayaan budaya dan sumber daya yang luar biasa. Kekayaan ini, jika dikelola dengan sentuhan inovasi dan manajemen yang tepat, diprediksi mampu mengangkat taraf hidup masyarakat secara signifikan serta melestarikan identitas lokal yang ada.
Frans Go menekankan bahwa langkah awal yang paling krusial adalah memberikan pendampingan yang tepat dan berkelanjutan kepada warga. Tanpa edukasi dan transfer pengetahuan yang mumpuni, potensi besar yang dimiliki desa tersebut dikhawatirkan akan tetap terkubur dan tidak memberikan manfaat optimal bagi penduduknya.
Pendampingan tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari literasi digital, manajemen usaha mikro, hingga teknik pengolahan hasil alam yang ramah lingkungan. Fokus utamanya adalah memastikan masyarakat memiliki daya saing yang cukup untuk menghadapi dinamika pasar yang terus berubah.
Melalui program yang terukur, pendampingan yang tepat diharapkan mampu mengubah desa bukan hanya sekadar tempat tinggal. Visi besarnya adalah menjadikan Maumolo sebagai episentrum aktivitas produktif yang mampu menyerap tenaga kerja lokal dan menekan angka urbanisasi.
Perubahan status desa menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dan sosial ini juga akan berdampak pada penguatan kohesi sosial. Dengan adanya aktivitas ekonomi yang bergairah, interaksi antarwarga dalam semangat gotong royong diyakini akan semakin erat dalam kerangka pembangunan bersama.
Sebagai penutup, Frans optimis bahwa model pembangunan yang diterapkan di Maumolo dapat menjadi inspirasi bagi wilayah lain. Ketika sebuah desa berhasil berdikari, maka ketahanan nasional secara otomatis akan ikut menguat, menciptakan fondasi bangsa yang lebih kokoh di masa depan.








