Jakarta – Tokoh asal Nusa Tenggara Timur (NTT) Fransiscus Go yang dikenal memiliki kepedulian tinggi dalam bidang pemberdayaan masyarakat. Melalui berbagai pandangan dan pengalamannya di lapangan, ia aktif mendorong penguatan kapasitas warga, khususnya dalam sektor pertanian dan ketahanan pangan. Baginya, kemandirian harus dibangun dari akar rumput.
Komitmen tersebut terlihat saat ia terlibat langsung dalam aktivitas pertanian di pinggiran Kefamenanu. Dalam sebuah kesempatan, ia mengikuti proses panen labu, kacang tanah, dan jagung di lahan milik keluarganya. Pengalaman itu semakin meneguhkan keyakinannya terhadap besarnya potensi lokal NTT.
Hasil panen yang diperoleh terbilang menggembirakan. Labu tumbuh padat, kacang tanah berisi penuh, dan jagung berkembang dengan sehat. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tanah di wilayah itu masih subur dan produktif.
Menurut Fransiscus Go, potensi ini tidak boleh dipandang sebelah mata. Ia menilai bahwa NTT memiliki sumber daya alam yang memadai, mulai dari tanah, iklim, hingga tenaga kerja. Yang dibutuhkan adalah pengelolaan yang konsisten serta pendampingan yang tepat sasaran.
Sebagai pegiat pemberdayaan masyarakat, ia percaya bahwa ketahanan pangan tidak harus selalu dimulai dari proyek besar. Justru, kekuatan utama terletak pada keluarga dan komunitas. Kebun keluarga yang dikelola secara serius dapat menjadi fondasi ketahanan ekonomi rumah tangga.
Ia menjelaskan bahwa ketika satu keluarga mampu memenuhi sebagian kebutuhan pangannya sendiri, maka secara tidak langsung mereka sedang memperkuat daya tahan ekonomi. Beban pengeluaran dapat ditekan dan ketersediaan pangan lebih terjamin. Model ini dinilai sederhana, namun berdampak besar jika diterapkan secara luas.
Fransiscus juga menekankan pentingnya membangun kesadaran kolektif masyarakat. Pemberdayaan bukan sekadar memberikan bantuan, melainkan mendorong kemandirian dan kemampuan untuk berkembang. Ia meyakini perubahan yang berkelanjutan lahir dari partisipasi aktif warga.
Di tengah ancaman krisis pangan global, pendekatan berbasis komunitas menjadi semakin relevan. NTT, menurutnya, memiliki peluang besar untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang. Optimalisasi potensi lokal menjadi kunci utama.
Ia pun mengajak berbagai pihak, termasuk pemerintah dan lembaga sosial, untuk bersinergi dalam mendampingi masyarakat. Program yang terarah dan berkelanjutan diyakini mampu mempercepat terwujudnya kemandirian daerah. Kolaborasi menjadi fondasi penting dalam proses pemberdayaan.
Dengan semangat tersebut, Fransiscus Go berharap NTT dapat menjadi contoh bagaimana daerah membangun ketahanan pangan dari bawah. Ia optimistis, melalui kerja keras dan kemauan untuk terus belajar, masyarakat mampu menciptakan kemandirian yang bermartabat dan berkelanjutan.








